Andi Sriwahyuni, Rahasia Bisnis “King Coco”

0
158
King Coco

Andi Sriwahyuni, Rahasia Bisnis “King Coco” – Andi Sriwahyuni tidak menyangka niatnya yang ingin mandiri telah membawanya menjadi wanita sukses. Buktinya, saat ini, dia telah menikmati hasil dari kerja kerasnya dalam membangun bisnis Nata De Coco (hidangan dari fermentasi air kelapa).

Dengan penghasilan Rp700.000 per minggu, mahasiswi Unhas ini berhasil mewujudkan impiannya menghasilkan uang dari hasil keringat sendiri. Perempuan yang biasa dipanggil Uya ini berbagi pada inspirasi-usaha.com tentang rahasia memulai bisnisnya.

Uya mengaku bahwa saat ingin membeli sebuah barang, ia harus mendapatkannya dengan uang sendiri. Maka ia berpikir jika dapat menghasilkan uang, ia harus berusaha. Ia bercerita bahwa niat ingin mendapatkan uang sendiri dimulai sejak SMA, tapi saat itu orang tuanya melarangnya dan memintanya fokus pada pelajaran. Barulah ketika diterima di Unhas, perempuan asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan ini diam-diam menyatakan impiannya. “Sekarang tinggal jauh dari orangtua jadi bisa bebas cari uang”, ucapnya sambil tersenyum.

Kehidupannya di Kota Makassar sebagai mahasiswa dirasa kurang menantang. Sampai suatu hari seorang teman datang menawarinya masuk Multi Level Marketing (MLM). Dari MLM inilah ia belajar untuk terus memotivasi diri agar mandiri dalam segala hal, termasuk materi. Dua tahun Uya berprofesi sebagai mahasiswa sekaligus anggota MLM. Tentu saja kedua hal ini tidak berjalan beriringan, “saat itu karena ikut MLM, kuliah saya hampir terbengkalai. Makanya waktu KKN saya berhenti dari multilevel”, ujar mahasiswa angkatan 2008 ini.

Setelah KKN ternyata perempuan yang mengaku keras kepala ini tidak melupakan impiannya. Bakat kepercayaan diri dan menjual dari MLM, ia wujudkan kembali. Kali ini Uya mencoba menjadi penjual pakaian. “Kebetulan saat itu nenek saya yang punya butik di kampung. Saya mencoba jadi distributornya di Makassar”. Namun ternyata Uya tidak bertahan lama dalam usaha tersebut. Meski selalu tampil fashionable tapi ia merasa fashion bukanlah passion nya dalam berbisnis. Sambil mencari ide untuk membuka bisnisnya sendiri, lagi-lagi mahasiswa fakultas ekonomi ini menjadi karyawan magang di salah satu perusahaan BUMN. Hal ini ia lakukan karena ingin mencoba hidup mandiri. Tentu saja pekerjaan ini pun ia lakukan tanpa sepengetahuan orangtuanya. Menjalani profesi sebagai karyawan magang dijalaninya dengan sunguh-sungguh.

Namun sekali lagi, wanita yang tidak betah jika harus duduk dibalik meja ini terus mencari ide bisnisnya. Kegalauannya ini pun ia ceritakan pada saudaranya. Saat itu saudaranya menyarankan membuka usaha nata de coco, sebab saudaranya tersebut hampir membuka usaha tersebut tapi tidak jadi. Sejak dari situ, Uya mulai rajin mempelajari tentang nata de coco dari internet. Setelah yakin, Uya mulai action untuk membuat nata de coconya sendiri. Saat ada kemauan pasti ada jalan. Niat dan kemauan Uya untuk menjadi pengusaha agar dapat mandiri ini sepertinya diketahui oleh Sang Maha Pendengar. “Suatu hari di kantor iseng-iseng saya baca koran, dan dari koran tersebutlah saya mendapat iklan privat pembuatan Nata de coco. Jika diingat lagi saat saya membaca koran itu, seperti bukan saya karena saya orangnya malas baca Koran. Saya sendiri merasa aneh dan ajaib saat tangan saya mengambil Koran hari itu. Tapi saya percaya saat itu Tuhan-lah yang menginginkan saya melihat iklan privat nata de coco tersebut”. Mulai dari hari itu ia memutuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan, sebab hal yang akan dibuatnya ini adalah hal yang diharapkannya bisa mengubah hidupnya. “Sukses di usia tua itu biasa, sukses di usia muda itu luar biasa. Dan jalan menuju sukses itu menurut saya ialah dengan berbisnis”.

Meski telah ditunjukkan jalan oleh Tuhan, tantangan dalam merintis bisnisnya mulai muncul. “Dalam iklan privat nata de coco itu dibebankan biaya sepuluh juta. Sedangkan saya tidak punya uang sama sekali saat itu”, ujar Uya mengenang.

Dalam menyelesaikan tantangan ini, sifat keras kepalanya ternyata sangat berguna. Bagaimana tidak, setelah memberanikan diri menelfon pengajar nata de coco tersebut dan bernegosiasi, ia berhasil mendapatkan penurunan harga privat dari Rp10.000.000 menjadi Rp1.600.000 saja. Sungguh lagi-lagi ia percaya Sang Maha membolak-balikkan hati-lah yang membantunya. Ia yakin bahwa bukan hanya modal kata-kata dalam bernegosiasinya saja yang membuat orang itu berbaik hati menurunkan harga privatnya, tapi kekuatan Tuhan lagi-lagi menyelamatkan hamba-NYA yang ingin berusaha. Setelah berhasil mendapatkan penurunan harga privat drastic tersebut, Uya pun kembali berusaha mendapatkan uang Rp1.600.000 tersebut. Apa lagi yang dilakukannya? Kali ini ia menjadi penjual kue kering. Maka status yang disandangnya pada saat itu ialah mahasiswa, karyawan magang, dan penjual kue. “Saya masih ingat pagi jadi mahasiswa, siang jadi karyawan magang, sore sampai malamnya jadi penjual kue. Selain membuat kue saya juga yang bertugas mengantarkan. Jarak yang ditempuh juga tidak dekat. Semua itu untuk dapat uang privat Rp1.600.000”, ceritanya dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Walau telah bekerja keras, Uya hanya berhasil mengumpulkan Rp700.000. Takut pengajar privat nata de coco itu menunggu lama, Uya pun meminjam uang pada saudaranya untuk membantunya. Tibalah pada hari pengajaran nata de coco Uya menceritakan kejadian menarik, “Saat pengajarnya melihat saya, ia terkejut. Dia pikir saya ibu-ibu yang mau buka usaha. Dia kaget karena yang mau buka usaha masih muda”. Perjuangannya mengumpulkan uang berhari-hari dibayar dengan pengajaran pembuatan nata de coco hanya dalam tiga jam. Setelah berhasil mengetahui pembuatan nata de coco, Uya tidak langsung membuka usahanya. “Sebelum buka usaha saya melakukan survei dulu. urveinya saya lakukan di pasar-pasar, penjual es, dan kantin-kantin kampus”, ujarnya. Setelah mengetahui keinginan masyarakat ia mulai memformulasikan nata de coco-nya sendiri dengan nama KING COCO.

Untuk melegalkan KING COCO, ia mengikuti Pekan Mahasiswa Wirausaha (PMW) di kampusnya pada tahun 2012. Dari 2.000 pendaftar hanya 17 orang yang berhak mendapatkan modal untuk usahanya. Kerja keras yang selama ini dilakukan Uya berhasil menjadikannya salah satu dari ke-17 orang tersebut. Setelah mendapatkan modal, ia pun harus pintar-pintar mengolahnya. Alih-alih menyewa tempat, ia malah mendirikan ‘perusahaan’nya sendiri di rumah, “kalau sewa tempat kan harus berkesinambungan bayarnya, jadi saya pikir lebih baik saya bikin tembok di rumah saya untuk jadi tempat pengolahan produknya. Jadi usaha saya lebih ke home industry”. Dalam memasarkan produknya, Uya kembali mendatangi para responden surveinya. “Mereka juga terkejut karena saya yang survey tapi saya juga yang menjual. Malu sih, tapi muka tembok sajalah daripada usaha tidak jalan” katanya sambil tertawa.

Harga nata de coco yang dijual di pasaran ialah Rp7.000. Banyak pembeli dan pedagang yang mempercayai mutu dari KING COCO. Sebab dalam pembuatannya Uya menggunakan pemanis alami dan isi yang lenih banyak. Uya mengaku nata de coco buatannya tahan hingga 6 bulan. Bukan hanya itu, bisnis yang baru berusia hampir tiga bulan ini mulai dilirik oleh perusahaan lain, “Saat ini saya bekerjasama dengan dua perusahaan. Tugas saya adalah mensuplai nata de coco olahan saya ke kedua perusahaan tersebut”. Kendala yang dihadapinya saat ini ialah karyawan, sebab kedua perusahaan tersebut memintanya mensuplai lebih banyak. Karyawan yang dimilikinya saat ini hanya dua orang. Jika berhasil mendapatkan tambahan karyawan, ia yakin bisa menembus omzet Rp 10.000.000 per bulan. Namun omzet sebanyak itu baru dari hasil mensuplai ke kedua perusahaan tersebut saja. Belum lagi dari para pedagang, warung, dan dosen-dosen yang memesan. Saat ini Uya dapat membayar SPP nya sendiri dan hidup mandiri dari hasil keringat dan kerja kerasnya dahulu. Setelah berhasil mewujudkan impiannya itu, Uya memiliki mulai membangun impian lain. “Bisnis KING COCO ini akan saya kembangkan lagi ke bisnis lainnya”, kata perempuan berhijab yang sedang memulai bisnis es teler ini.